Harga Sebuah Persatuan

- Wartawan

Rabu, 15 Juli 2026 - 20:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fahrur Rozi - CO Div. Litbang Dewan Pengurus Pusat FKMSB Nasional.

Fahrur Rozi - CO Div. Litbang Dewan Pengurus Pusat FKMSB Nasional.

Selama ini, sebagian komentar di media sosial begitu mudah menuding warga Madura sebagai “rayap besi”. Stigma itu diulang, diwariskan, lalu dianggap sebagai kebenaran. Ketika berbagai fakta dan kasus terungkap, pelakunya ternyata tidak pernah berasal dari satu etnis, satu daerah, atau satu golongan tertentu.

Padahal kita tahu, Kejahatan tidak memiliki suku, tidak memiliki daerah asal, dan tidak memiliki identitas komunal.

Mirisnya, mereka yang lantang menghakimi sering lupa bahwa prasangka adalah bentuk lain dari ketidakadilan. Sebagian orang begitu mudah melabeli: hama, tertinggal, kolot, dan berbagai sebutan yang merendahkan martabat sesama anak bangsa.

Padahal, jika meminjam kata-kata Bung Karno, “Hanya kebangsaanlah yang dapat mempersatukan Indonesia.” Namun hari ini, kehidupan berbangsa dan bernegara justru sering dipenuhi penghakiman, ejekan, dan kebencian yang saling mencederai.

Sila kelima berbunyi “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Tetapi bagaimana keadilan dapat tumbuh jika kesalahan segelintir orang dibebankan kepada seluruh kelompok? Bagaimana persatuan dapat berdiri kokoh jika prasangka lebih dipercaya daripada fakta?

BACA JUGA :  Peran dan Kewenangan MPR dan DPR RI Pada Era Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi

Kita hidup di negeri yang kerap memperlihatkan kebodohan. Yang miskin sering kali lebih cepat dicurigai daripada dibela. Yang lemah lebih mudah disalahkan daripada didengarkan. Sementara yang memiliki kuasa tak jarang mampu menghindari sorotan, bahkan ketika dampak perbuatannya jauh lebih besar.

BACA JUGA :  Gawat! Tuding Banyak Pokir Siluman DPRD Pamekasan, Forkot Sebut Ada Kontraktor Main Mata dengan Kepala Dinas PRKP

Ketika yang miskin tertindas, yang kuat semena-mena, dan yang tak berkuasa terus terhempas, tapi jangan lupa yang terkikis adalah persatuan yang harusnya sebagai fondasi sebagai dasar bernegara.

Masih mahalkah harga sebuah bangsa? Masih tampakkah harga sebuah persatuan? Ataukah kita telah lupa bahwa falsafah kebangsaan dimulai dari rasa saling memiliki, yakni “persatuan”

Penulis: Fahrur Rozi – CO Div. Litbang Dewan Pengurus Pusat FKMSB Nasional

Berita Terkait

Famas Mahardika Naikkan Level Perlawanan, Dugaan TPPU dan Cukai Rokok PR Subur Jaya HJS Dibawa ke KPK
Menjaga Amanat Konstitusi di Tengah Gejolak Global
Peran dan Kewenangan MPR dan DPR RI Pada Era Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi
Ambang Batas Madura Sebagai Pulau Garam di Tengah Banjirnya Rokok Bodong
PWI Pamekasan Baca Urgensi KEK Tembakau dan Garam Madura

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 20:18 WIB

Harga Sebuah Persatuan

Kamis, 30 April 2026 - 17:21 WIB

Famas Mahardika Naikkan Level Perlawanan, Dugaan TPPU dan Cukai Rokok PR Subur Jaya HJS Dibawa ke KPK

Senin, 2 Maret 2026 - 19:16 WIB

Menjaga Amanat Konstitusi di Tengah Gejolak Global

Senin, 9 Februari 2026 - 10:08 WIB

Peran dan Kewenangan MPR dan DPR RI Pada Era Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi

Rabu, 21 Januari 2026 - 07:08 WIB

Ambang Batas Madura Sebagai Pulau Garam di Tengah Banjirnya Rokok Bodong

Berita Terbaru

Fahrur Rozi - CO Div. Litbang Dewan Pengurus Pusat FKMSB Nasional.

Karya

Harga Sebuah Persatuan

Rabu, 15 Jul 2026 - 20:18 WIB