Kasus Perceraian di Pengadilan Agama Pamekasan Dinilai Janggal, Sang Suami Ini Pertanyakan Keabsahan Buku Nikah

- Wartawan

Senin, 26 Januari 2026 - 18:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wafi (39), warga Kecamatan Juncangcang, Kabupaten Pamekasan, mengaku terkejut setelah mengetahui secara tiba-tiba kabar bakal ada putusan gugatan cerai terhadap dirinya di Pengadilan Agama (PA) Pamekasan yang dijadwalkan dibacakan pada Selasa (27/1/2026).

Wafi (39), warga Kecamatan Juncangcang, Kabupaten Pamekasan, mengaku terkejut setelah mengetahui secara tiba-tiba kabar bakal ada putusan gugatan cerai terhadap dirinya di Pengadilan Agama (PA) Pamekasan yang dijadwalkan dibacakan pada Selasa (27/1/2026).

PAMEKASAN, Madura Hari Ini. Wafi (39), warga Kecamatan Juncangcang, Kabupaten Pamekasan, mengaku terkejut setelah mengetahui secara tiba-tiba kabar bakal ada putusan gugatan cerai terhadap dirinya di Pengadilan Agama (PA) Pamekasan yang dijadwalkan dibacakan pada Selasa (27/1/2026).

Wafi mengatakan, selama lima tahun membina rumah tangga dengan istrinya, Humairah, warga Kelurahan Juncangcang, Kabupaten Pamekasan, ia tidak pernah mendengar atau menerima penyampaian langsung terkait keinginan cerai dari sang istri.

Pihaknya juga mengaku tidak pernah melakukan Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), bahkan ia mengaku masih menafkahi sang istri.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya dan istri masih saling menyayangi. Kami sudah dikaruniai dua anak dan tidak pernah ada persoalan serius, apalagi sampai membahas perceraian,” ujar Wafi kepada wartawan, Senin (26/1/2026).

BACA JUGA :  Paksa Bupati Pamekasan Duduk di Sofa Tua-Rusak, Pendemo Sebut Pemimpin Tak Layak Dipertahankan

Merasa janggal, Wafi mendatangi langsung Kantor Pengadilan Agama Pamekasan untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. Ia mengaku sama sekali tidak pernah menerima panggilan sidang maupun pemberitahuan resmi terkait adanya gugatan cerai.

“Saya tidak pernah mendapatkan surat panggilan sidang. Tahu-tahu besok sudah ada putusan,” ungkapnya.

Lebih jauh, Wafi menduga adanya kejanggalan dalam proses administrasi gugatan cerai tersebut. Pasalnya, buku nikah yang menjadi salah satu syarat utama pengajuan gugatan masih berada dalam penguasaannya dan tidak pernah ia serahkan untuk keperluan persidangan.

“Buku nikah ada di saya. Karena itu saya menduga ada duplikat atau bahkan pemalsuan buku nikah yang digunakan dalam berkas gugatan,” tegasnya.

BACA JUGA :  Forkot Demo Soroti Dugaan Kejanggalan Anggaran di Kantor Bapperida Pamekasan, Ini 3 Poin yang Dipersoalkan!

Wafi juga menegaskan bahwa ia dan istrinya masih saling menyayangi, hanya saja kata dia, faktor orang tua dari sang istri yang dianggap membuat rumah tangganya menjadi carut-marut.

“Saya masih berharap besar kepada Allah saya dan istri saya tetap bersama,” harapnya.

Meski merasa dirugikan dan tidak dilibatkan dalam proses hukum yang berjalan di Pengadilan Agama Pamekasan, Wafi menyebut akan menempuh langkah-langkah hukum demi mencari keadilan dan kejelasan atas perkara tersebut.

Sementara itu, saat dikonfirmasi langsung, Ketua Pengadilan Agama Pamekasan, Dr. H. Muhammad Najmi Fajri, S.H.I., M.H.I., berdalih tidak mengetahui terkait berkas yang diajukan karena yang tahu adalah hakim.

“Ini diajukan melalui eCourt, maka pengirimannya melalui Pos. Kalau yang bersangkutan keberatan tidak menerima surat apapun, itu mungkin yang menerima kepala desa, selebihnya yang tahu adalah hakim yang menangani perkara ini,” tukas Najmi dikutip dari Pamekasan Channel.

BACA JUGA :  Jumat Berkah, Gadai Mas Bangkalan Gelar Aksi Sosial untuk Warga Sekitar

Dikonfirmasi, Kepala/Pelaksana Tugas (Plt) Kepala KUA Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, H. Abdul Wafi mengaku masih akan mengecek berkas tersebut. Menurutnya pihaknya tidak akan semerta-merta menerbitkan buku nikah tanpa alasan.

“Besok saya cek berkasnya ya, kalau KUA menerbitkan buku nikah harus ada keterangan kepolisian, kalau rusak harus ada keterangan rusak,” tuturnya.

Selain itu, kata dia, buku nikah itu menjadi salah satu syarat utama bagi Pengadilan untuk melangsungkan sebuah perkara gugatan cerai dapat disidangkan.

“Kalau tidak ada buku nikahnya berkasnya ditolak oleh pengadilan agama,” tutupnya.

Berita Terkait

Ngaku Habis Rp38 Miliar Dukung Khofifah di Pilgub Jatim, H Her : Tak Usah Ganti Uang Saya Itu
DPP PESAN Resmi Dikukuhkan di Sampang, Siap Perluas Kepengurusan di Jawa Timur
Polemik Bantuan Rp2 Miliar, Founder BIP Buka Suara
Punya Suara Emas, Ini Profil Ari Sampang DA8
Kasus Mobil Dinas Bapperida Pamekasan, Polres Segera Limpahkan ke Inspektorat Daerah
Ini Alasan Mendasar Ribuan Relawan SPPG di Pamekasan Minta Program MBG Tak Disetop
Pendemo Minta Bupati Pamekasan Perhatikan Janda Pengangguran, Relawan : MBG Harus Tetap Lanjut
Demo Panas! Massa Terobos Ruang Sekda, Kasubag Umum Bantah Pernah Buat Surat Tugas Bupati Pamekasan

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 15:25 WIB

Ngaku Habis Rp38 Miliar Dukung Khofifah di Pilgub Jatim, H Her : Tak Usah Ganti Uang Saya Itu

Senin, 20 Juli 2026 - 22:03 WIB

DPP PESAN Resmi Dikukuhkan di Sampang, Siap Perluas Kepengurusan di Jawa Timur

Minggu, 12 Juli 2026 - 22:25 WIB

Polemik Bantuan Rp2 Miliar, Founder BIP Buka Suara

Jumat, 10 Juli 2026 - 11:24 WIB

Punya Suara Emas, Ini Profil Ari Sampang DA8

Jumat, 3 Juli 2026 - 10:50 WIB

Kasus Mobil Dinas Bapperida Pamekasan, Polres Segera Limpahkan ke Inspektorat Daerah

Berita Terbaru

Fahrur Rozi - CO Div. Litbang Dewan Pengurus Pusat FKMSB Nasional.

Karya

Harga Sebuah Persatuan

Rabu, 15 Jul 2026 - 20:18 WIB