Gegara Lapor Polisi usai Lahan Dirusak, Sunama Warga Camplong Sampang Ngaku Dapat Ancaman

- Wartawan

Sabtu, 25 April 2026 - 23:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi.

Ilustrasi.

SAMPANG, Madura  Hari Ini- Dugaan penguasaan jalan umum oleh dua oknum berinisial S dan M di wilayah Camplong, Kabupaten Sampang, berujung konflik serius yang kini menyeret berbagai dugaan tindak pidana, mulai dari penganiayaan, pengancaman, hingga pengrusakan lahan dan tekanan pencabutan laporan.

Kasus ini bermula dari dugaan upaya penguasaan jalan umum secara sepihak. Persoalan tersebut berlarut-larut tanpa penyelesaian yang jelas, bahkan disebut telah berlangsung dalam waktu cukup lama hingga memicu benturan antar pihak.

Korban, Sunama, warga Dusun Bunut, Desa Sejati, Kecamatan Camplong, mengaku menjadi korban kekerasan fisik hingga mengalami luka di bagian wajah. Ia juga mengungkap adanya ancaman serius yang tidak hanya menyasar dirinya, tetapi juga keluarganya.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau saya teruskan kasus ini, saya dan keluarga saya diancam. Bahkan ada ucapan kalau pelaku sampai dipenjara, keluarga saya yang akan jadi sasaran,” ungkap Sunama, Jum’at (24/04/2026).

BACA JUGA :  Was-was usai Kasus Siswa Keracunan, SPPG Launching 14 Dapur MBG di Pamekasan

Menurut Sunama, dirinya telah berupaya menempuh jalur damai. Namun, upaya tersebut tidak mendapat respons dari pihak lawan. Sebaliknya, ia justru mengaku mendapat tekanan untuk mencabut laporan yang telah diajukannya ke kepolisian.

“Saya diminta mencabut laporan dan disuruh tanda tangan surat perdamaian. Tapi saya curiga, takut ada sesuatu di belakang itu,” tegasnya.

Di tengah konflik, muncul pula dugaan penyerobotan lahan meskipun objek tanah disebut telah memiliki sertifikat resmi. Tak hanya itu, dugaan pengrusakan juga terjadi. Pohon-pohon milik korban di lokasi sengketa dilaporkan dibabat habis tanpa izin.

“Pohon-pohon saya ditebang semua tanpa izin. Itu dilakukan sepihak, padahal belum ada penyelesaian apa-apa,” tambah Sunama.

Tindakan tersebut dinilai tidak hanya sebagai bentuk pengrusakan aset, tetapi juga berpotensi sebagai upaya menghilangkan barang bukti di lokasi sengketa. Konflik yang melibatkan sejumlah pihak ini bahkan sempat memicu bentrokan dan memperbesar eskalasi di lapangan.

BACA JUGA :  3 Pengedar Ekstasi Digulung Polres Pamekasan, Berikut Identitasnya

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sedikitnya terdapat tiga laporan polisi (LP) yang telah dilayangkan, mencakup dugaan penganiayaan, pengancaman, penyerobotan lahan, pengrusakan, hingga tekanan untuk mencabut laporan. Seluruh laporan tersebut saat ini berada dalam penanganan Polres Sampang di wilayah Kabupaten Sampang.

Namun, perkembangan penanganan perkara ini menuai sorotan. Berdasarkan dokumen resmi Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) tertanggal 24 April 2026, penyidik baru melakukan langkah awal berupa penerimaan laporan serta pengiriman undangan klarifikasi kepada pihak terlapor.

Fakta tersebut menimbulkan pertanyaan, mengingat laporan telah berjalan sejak awal April, namun prosesnya masih berada pada tahap penyelidikan awal dan belum menunjukkan peningkatan ke tahap penyidikan.

BACA JUGA :  Brutal! Penganiayaan di Pamekasan, Wanita Ini Diseret, Dipukul Pakai Botol Miras, hingga Alami Luka Serius

Dalam dokumen itu juga disebutkan bahwa penyidik masih akan melakukan pemeriksaan saksi, meminta keterangan terlapor, serta berkoordinasi dengan pihak terkait. Kondisi ini dinilai belum sebanding dengan kompleksitas kasus yang melibatkan dugaan kekerasan, ancaman, hingga pengrusakan.

Sunama pun menilai proses penanganan perkara berjalan lambat dan belum memberikan kepastian hukum.

“Kalau tidak ada kejelasan, kami akan laporkan ke Divisi Profesi dan Pengamanan Polri di Polda Jawa Timur. Kami butuh kepastian hukum,” tegasnya.

Kasus ini menjadi ujian bagi penegakan hukum di daerah. Publik kini menanti langkah tegas dan transparan dari aparat penegak hukum, agar dugaan kekerasan, intimidasi, serta penguasaan fasilitas umum tidak terus berulang dan memicu konflik sosial yang lebih luas. (Red)

Berita Terkait

Aneh Bin Ajaib! Kasus Dugaan Kekerasan Oknum Polisi pada Jurnalis Surabaya, 3 Kali Berganti Penyelidik
LKPP Jatim Kecam Perusakan Plengsengan Penahan Jalan di Desa Majungan Pamekasan
AKP Agus Tinggalkan Jabatan Kasatresnarkoba Polres Pamekasan, Digantikan AKP Suyanto
Disorot Dugaan Jual Beli Titik SPPG di Madura, Harta Slamet Ariyadi Turun Drastis Rp 10 Miliar Jadi Rp 6,1 Miliar
Achsanul Qosasi Hadiri HUT ke-14 Kabar Madura
Demo Mabes Polri, Desak Usut Dugaan Setoran Uang Pengamanan Rokok Ilegal ke Oknum Polisi Pamekasan
Forkot Desak KPK dan Kejagung Periksa Slamet Ariyadi DPR RI Dugaan Jual Beli Titik SPPG di Madura
Bidik Kapasitas Anggota, Bhayangkari Polres Pamekasan Ikuti Pelatihan Table Manner

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 08:15 WIB

Aneh Bin Ajaib! Kasus Dugaan Kekerasan Oknum Polisi pada Jurnalis Surabaya, 3 Kali Berganti Penyelidik

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:43 WIB

LKPP Jatim Kecam Perusakan Plengsengan Penahan Jalan di Desa Majungan Pamekasan

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:23 WIB

AKP Agus Tinggalkan Jabatan Kasatresnarkoba Polres Pamekasan, Digantikan AKP Suyanto

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:30 WIB

Disorot Dugaan Jual Beli Titik SPPG di Madura, Harta Slamet Ariyadi Turun Drastis Rp 10 Miliar Jadi Rp 6,1 Miliar

Selasa, 9 Juni 2026 - 19:11 WIB

Demo Mabes Polri, Desak Usut Dugaan Setoran Uang Pengamanan Rokok Ilegal ke Oknum Polisi Pamekasan

Berita Terbaru

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang, Jawa Timur membentuk Tim Pembinaan dan Pengawasan (Binwas) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar upaya pelaksanaan program prioritas Presiden Prabowo Subianto itu berjalan efektif dan sesuai ketentuan. (Foto/ANT).

Politik dan Pemerintahan

Pemkab Sampang Resmi Bentuk Binwas MBG

Jumat, 12 Jun 2026 - 07:49 WIB