PAMEKASAN, Madura Hari Ini- Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pratama Pakong Mufti Ali Abrori memberikan klarifikasi atas keluhan sejumlah penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebelumnya, Menu MBG Ramadan dari dapur SPPG di bawah naungan Yayasan Fatimah Maju tersebut menjadi sorotan setelah beredar luas bahwa roti yang dibagikan kepada siswa dari dapurnya diduga tidak layak konsumsi karena berbau kurang sedap.
Atas adanya keluhan MBG Ramadan tersebut, Mufti Ali Abrori menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penerima manfaat atas kegaduhan yang terjadi. Ia menegaskan bahwa pihak dapur sangat menghargai setiap masukan dan kritik sebagai bahan evaluasi ke depan.
ADVERTISEMENT
.
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kendati, ia menjelaskan, bahwa menu yang sempat viral tersebut merupakan menu porsi kecil yang diperuntukkan untuk rapel dua hari dengan anggaran Rp8.000 per porsi.
“Rincian menunya, pada hari pertama terdiri dari bakpao, susu UHT full cream, buah jeruk, dan kurma. Sementara pada hari kedua terdiri dari roti panggang, susu UHT full cream, buah jeruk, dan kurma,” kata Mufti, Rabu (25/2/2026).
Sedangkan untuk menu porsi besar dengan anggaran Rp10.000 per porsi, menu hari pertama terdiri dari bakpao, susu UHT full cream, telur rebus, dan buah jeruk. Menu hari kedua terdiri dari roti panggang, susu UHT full cream, telur rebus, dan buah jeruk.
Ia juga menegaskan bahwa roti panggang dan bakpao yang didistribusikan merupakan olahan dapur SPPG sendiri, bukan produk pabrikan. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk kepatuhan terhadap aturan dari pusat yang melarang penggunaan produk Ultra Processed Food (UPF) dalam program MBG.
“Roti dan bakpao kami produksi sendiri di dapur karena aturan pusat memang melarang penggunaan produk UPF atau pabrikan,” tuturnya.
Terkait foto menu yang beredar luas di media sosial, Mufti menyebut sebagian dokumentasi tersebut tidak sesuai fakta. Ia memastikan bahwa pada saat pendistribusian MBG, setiap paket telah dilengkapi susu sesuai dengan standar menu yang ditetapkan.
“Kami melihat ada foto yang viral itu susunya sudah tidak ada. Faktanya, pendistribusian paket MBG tadi pagi lengkap dengan susu di setiap porsi,” jelasnya.
Mufti membantah atas dugaan bau apek pada roti dan bakpao. Sebab menurutnya, seluruh proses produksi dilakukan sesuai prosedur ketat. Proses memasak dimulai sejak pukul 00.00 WIB, kemudian dilakukan pendinginan mulai pukul 02.00 WIB untuk memastikan makanan tidak cepat basi.
“Kami sudah konfirmasi ke semua penanggung jawab, tidak ada yang apek. Menu kami dipastikan dalam kondisi dingin sebelum pemorsian untuk menghindari basi dan bau tidak sedap,” katanya.
Menurutnya, kemungkinan kerusakan menu terjadi setelah makanan sampai di sekolah. Ia menduga makanan diletakkan di area yang terpapar sinar matahari langsung sehingga memengaruhi kualitas roti dan bakpao.
“Kami menduga kemungkinan makanan diletakkan di tempat yang terkena panas matahari oleh pihak sekolah, sehingga menyebabkan roti panggang dan bakpao menjadi rusak,” ujarnya.











