MADURA HARI INI | SURABAYA – (06/05), Hasbul Pengurus BADKO HMI Jawa Timur Bidang Politik dan Demokrasi menegaskan dukungan penuh terhadap langkah Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengintensifkan misi dagang sebagai strategi akselerasi pertumbuhan ekonomi berbasis ekspor dan investasi.
Menurutnya, capaian misi dagang yang menembus angka lebih dari Rp15 triliun merupakan indikator empiris atas efektivitas kebijakan ekonomi daerah yang berbasis pada perluasan akses pasar dan penguatan jejaring perdagangan internasional. Dalam konteks ekonomi makro, angka tersebut mencerminkan adanya peningkatan potensi ekspor, kontrak dagang, serta komitmen bisnis jangka menengah dan panjang yang berdampak langsung terhadap struktur ekonomi regional.
“Nilai transaksi yang mencapai triliunan rupiah tidak dapat dipahami sekadar sebagai capaian administratif, tetapi harus dilihat sebagai manifestasi dari meningkatnya kepercayaan pasar global terhadap produk dan kapasitas produksi Jawa Timur,” ujar Hasbul.
ADVERTISEMENT
.
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan bahwa secara struktural, Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan kontribusi signifikan terhadap ekspor nasional, terutama dari sektor industri pengolahan, pertanian, dan perikanan. Dengan basis tersebut, misi dagang menjadi instrumen strategis untuk memperluas penetrasi pasar non-tradisional sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar domestik.
Dalam perspektif ekonomi politik, Hasbul menilai bahwa misi dagang merupakan bentuk intervensi negara yang rasional dalam mengatasi keterbatasan pasar (market failure), khususnya dalam hal akses informasi, jaringan distribusi, dan diplomasi bisnis. Ia menekankan bahwa banyak pelaku usaha, terutama UMKM, menghadapi hambatan struktural untuk masuk ke pasar global tanpa fasilitasi negara.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa pendekatan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sejalan dengan konsep subnational diplomacy, di mana pemerintah daerah berperan aktif sebagai aktor ekonomi global. Hal ini, menurutnya, merupakan langkah progresif dalam memperkuat daya saing daerah di tengah kompetisi ekonomi internasional yang semakin ketat.
“Jika dikelola secara konsisten dan berbasis data, misi dagang akan menghasilkan efek pengganda (multiplier effect) yang signifikan, mulai dari peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan industrialisasi daerah,” tegasnya.
Namun demikian, Hasbul juga mengingatkan pentingnya memastikan bahwa manfaat dari misi dagang bersifat inklusif. Ia mendorong agar keterlibatan UMKM, koperasi, dan pelaku ekonomi lokal menjadi prioritas utama agar distribusi manfaat ekonomi tidak timpang.
BADKO HMI Jatim, lanjutnya, akan terus mengawal kebijakan ini agar tetap berada pada koridor pembangunan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan. “Kami mendukung penuh dan secara konstruktif mendorong agar misi dagang ini terus diperluas dengan pendekatan yang lebih sistematis, terukur, dan berbasis data, sehingga mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur,” pungkasnya.
Terakhir, Hasbul juga menegaskan bahwa adanya upaya membangun narasi negatif mengenai Pemprov Jatim yang telah melibatkan mahasiswa dan pemuda dalam agenda misi dagang tersebut, sejatinya mencerminkan ketidakjelasan basis argumentasi sekaligus kegagalan dalam membaca realitas objektif tentang bagaimana negara dan generasi muda sedang berjuang bersama membangun fondasi ekonomi yang berkelanjutan.
Oknum pemuda yang masih terjebak dalam sentimen negatif, pada hakikatnya sedang mempertontonkan sikap reaksioner yang miskin dialektika. Kritik yang tidak ditopang oleh data, tidak diarahkan pada solusi, dan tidak mampu membedakan antara ruang partisipasi dan kooptasi, hanya akan melahirkan stagnasi berpikir serta memperlemah posisi pemuda itu sendiri dalam arus transformasi ekonomi.
Padahal, dalam konteks pembangunan hari ini, keterlibatan pemuda bukan lagi sekadar simbolik, melainkan kebutuhan strategis. Misi dagang bukan hanya tentang transaksi ekonomi, tetapi juga tentang transfer pengetahuan, perluasan jejaring, dan pembentukan kapasitas generasi muda agar mampu menjadi aktor, bukan sekadar penonton.
Karena itu, alih-alih membangun kecurigaan yang tidak produktif, pemuda semestinya hadir dengan kritik yang konstruktif yang tidak hanya membongkar, tetapi juga menawarkan arah. Sebab sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang sibuk meragukan dari pinggir, melainkan oleh mereka yang berani terlibat, membaca peluang, dan mengambil peran dalam setiap proses perubahan, tutupnya.











