PAMEKASAN, MADURA HARI INI– Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda Ansor, Achmad Ghufron Sirodj, menyoroti maraknya aksi demonstrasi di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.
Ia menilai demonstrasi yang terlalu sering dilakukan berpotensi menghambat masuknya investor dan berdampak pada terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Achmad Ghufron Sirodj saat menghadiri acara Pelantikan Pengurus Cabang (PC) GP Ansor Pamekasan periode 2026–2030 di Azana Hotel Pamekasan, Madura, Minggu (18/11/2026).
ADVERTISEMENT
.
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kesempatan itu, pria yang akrab disapa Ra Gopong tersebut menyampaikan kritik sekaligus otokritik terhadap fenomena demonstrasi yang menurutnya semakin kehilangan makna sebagai instrumen perjuangan masyarakat.
“Pamekasan ini, mohon maaf, ini kritik dan otokritik, demonstrasi telah menjadi industri. Ini enggak baik menurut saya,” ujarnya.
Menurut Ra Gopong, demonstrasi merupakan bagian dari hak masyarakat dalam menyampaikan aspirasi. Namun, ia mengingatkan agar aksi tersebut tidak dilakukan secara berlebihan hingga justru menimbulkan persepsi negatif terhadap iklim investasi daerah.
Ia menegaskan, salah satu parameter kemajuan suatu daerah adalah kemampuan menarik investor untuk menanamkan modal dan mengembangkan usaha. Kehadiran investasi dinilai penting karena dapat membuka lapangan pekerjaan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kalau investornya didemo terus gimana? Akhirnya, kan, lapangan kerja yang harusnya kalian tempati dan didistribusikan oleh kader PMII, Ansor, ditutup sendiri sama kalian,” papar Ra Gopong.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan membela kepentingan masyarakat perlu diiringi dengan upaya menciptakan iklim usaha yang kondusif.
Menurut pandangannya, aspirasi publik tetap penting, tetapi cara penyampaiannya juga perlu mempertimbangkan dampak terhadap keberlangsungan investasi dan kesempatan kerja.
Ajak Anak Muda NU Kembalikan Demonstrasi sebagai Jalan Terakhir
Lebih lanjut, Ra Gopong mengajak kalangan anak muda, khususnya generasi muda Nahdlatul Ulama (NU), untuk kembali menempatkan demonstrasi sebagai langkah terakhir setelah jalur dialog dan komunikasi ditempuh.
Ia menilai frekuensi aksi demonstrasi di Pamekasan yang disebutnya hampir terjadi setiap pekan perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Jika demonstrasi terus berlangsung tanpa mempertimbangkan efektivitas dan dampaknya, menurutnya, masyarakat berisiko memandang aksi tersebut sebagai sesuatu yang biasa, bukan lagi sebagai instrumen perjuangan yang memiliki bobot moral dan sosial.
“Pamekasan ini hampir setiap minggu ada demonstrasi. Sampai kita melihat aksi demo ini tidak sakral. Ini bahaya laten,” tegasnya.
Melalui pesan tersebut, Ra Gopong mendorong generasi muda agar mampu menyeimbangkan keberanian menyuarakan aspirasi dengan tanggung jawab menjaga masa depan daerah.
Baginya, kemajuan Pamekasan tidak hanya membutuhkan kontrol sosial yang berjalan baik, tetapi juga iklim investasi yang sehat, terbukanya lapangan pekerjaan, serta keterlibatan aktif generasi muda dalam pembangunan.
Dengan demikian, demonstrasi diharapkan tetap menjadi sarana perjuangan yang digunakan secara tepat, terukur, dan bertanggung jawab, tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat luas dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.











