PAMEKASAN, MADURA HARI INI | Suasana aksi demo yang digelar puluhan aktivis NGO Madura di depan Kantor Bupati Pamekasan pada Kamis (18/9) berlangsung tidak biasa.
Massa aksi membawa sebuah sofa tua dan rusak ke lokasi, sebagai simbol kekecewaan mereka terhadap kepemimpinan Bupati Pamekasan.
Pasalnya, di tengah efisiensi yang selalu digembar gemborkan, namun malah menganggarkan Sofa dan kasur ratusan juta.
ADVERTISEMENT
.
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka juga mengeritik soal jalan ke Rumah Bupati dan istrinya yang diperbaiki menggunakan APBD ditengah efisiensi, sedangkan masyarakat harus patungan dalam memperbaiki jalan rusak.
Selain itu, massa aksi juga membawa satu bal tembakau sebagai simbol perlawanan dan ketidakpastian kepemimpinan Bupati Pamekasan.
Dalam aksinya, para aktivis menilai pemerintah daerah gagal memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat.
“Sofa rusak itu disebut sebagai representasi kepemimpinan yang dianggap sudah tidak layak dipertahankan,” ujar Abdus Marhen, sala satu koordinator aksi.
Pantauan di lokasi, massa aksi lalu meminta Bupati Pamekasan untuk duduk di sofa rusak yang dibawa para demonstran.
“Duduk biar tahu sofa rusak ini, ini bentuk protes rakyat karena anda sebagai Bupati malah belanja kursi sofa ratusan juta, itu tidak sesuai dengan kata efisiensi yang selalu digembar gemborkan,” teriak Abdus Marhen.
Suasana aksi nyaris berlangsung ricuh pada saat massa menerobos masuk. Beberapa aparat kepolisian terlihat berjaga untuk mengamankan jalannya demonstrasi.
Sementara, koordinator aksi lainnya, Zaini Wer-Wer menegaskan bahwa PR Bupati Pamekasan tidak hanya persoalan tersebut, gudang raksasa di Pamekasan tidak melakukan pembelian tembakau hingga saat ini.
“Sejak dulu beliau pertama kali menjadi Bupati saya selalu demo, dan jawaban beliau sama seperti ini, untuk ngapusi,” paparnya.
Sedangkan, saat menemui massa aksi, Bupati Pamekasan, KH Kholilurrahman menuturkan, sudah membatalkan belanja kursi sofa tersebut.
“Sudah saya batalkan dua hari yang lalu, sudah saya sampaikan ke Kabag Umum,” tuturnya.
Lanjut Kiai Kholil, Anggaran belanja barang ini disepakati pada tahun 2024, sebelum terbitnya intruksi presiden (Inpres) Nomor 1 tahun 2025.
“Sebelum Inpres efisiensi ada, kasur sudah ada sebelum saya masuk di Pendopo,” terangnya.
Kiai Kholil mengatakan, sudah melakukan komunikasi ke Gudang Garam untuk melakukan pembelian tembakau di Pamekasan.
“Saya sudah telfon gudang garam, mereka sudah lama menikmati manisnya daun tembakau di Pamekasan, tapi sampai saat ini belum melakukan pembelian,” terangnya.
Sebelum aksi bubar, sofa rusak tersebut dibakar dan dibiarkan tergeletak di halaman kantor bupati sebagai penanda protes warga.
Penulis : Al











